ARTIKEL YATIM CI
FALSAFAH PAKU
Betapa beratnya menjadi seorang ‘alim itu selamanya dirinya akan menjadi sorotan ummat, karena dari setiap ucapan dan perilakunya senantiasa menggetarkan gerak nadi masyarakat. Jika ucapan itu selaras dengan perilakunya aura moralitas akan memenuhi dan menjadi perbaikan lingkungan sosialnya. Namun jika ucapannya itu tak beriring mesra dengan perilakunya umatpun akan bergolak, bagai air susu sebelanga setitik noktah pun terlampau cukup untuk mengotori dan menghitamkannya.
Setiap Ulama’ hendaknya tak pernah melepaskan fungsi-fungsi yang melilitnya. Dirinya harus dapat menjadi uswah ( suri tauladan ) tabligh ( menyampaikan ) tahkim ( memutuskan perkara ) dan tabyin ( menjelaskan ) jika keempat fungsi itu lepas dari ikatannya, maka tak ayal badai protes dan hujatan kritikpun akan dating secara bertubi-tubi.
Maka alangkah eloknya jikalau kita mengingat falsafah paku saking tingginya mutiara nilai yang terkandung didalamnya tak salah kalau para raja jawa dahulu banyak yang memungutnya untuk dijadikan sebagai symbol ketinggian derajat mereka semisal dengan pentasbihan Pakubuwono, Pakubumi, Pakualamdan lain sebagainya
Demi merekatkan satu kayu dengan kayu yang lain umpamanya, sudah menjadi ”nasib” paku untuk dipukuli secara terus menerus hingga tertancap sedalam-dalamnya. Karena sedikit saja paku itu muncul kepermukaan, tentu akan dapat mengakibatkan orang lain tersandung dirinya.
Agar tak terjadi malapeta kayang tak diinginkan, maka ukuran paku itupun harus sesuai betul dengan barang yang akan dipaku. Tak mungkin paku blandar kita pakai untuk memaku kayu usuk. Dan jangan pula memaksakan memaku kayu reng dengan paku usuk. Jika hal itu tetap dipaksa-paksakan, tentu akan terjadi keretakan atau bahkan pecahnya kayu yang hendak disatukan. Jadinya, bukan perekatan yang terjadi, melainkan justru pemecahan atau pemisahan.
Begitupun sebaliknya, tak ada gunanya memfungsikan paku berukuran kecil untuk memaku sesuatu yang berukuran besar. Seperti memaku blandar dengan paku usuk, atau menggunakan paku reng untuk memaku kayu usuk. Meskipun tak terjadi suatu pemecahan, namun hal itu tak akan nyampai alias sia-sia. Maka jangan paksakan memaku betonan dengan memakai paku seng atau paku payung. Dan jangan pula memaku seng dengan menggunakan paku biasa kalaupun hal itu tetap kita lakukan maka lambat laun akan terjadi kebocoran talang seng dari atap rumah kita.
Intinya dalam soal paku memaku baik hal itu untuk merekatkan tali persaudaraan antar keluarga, menyatukan renggangnya hubungan kemasyarakatan, pemulihan keretakan etnisitas atau buntunya lubang hati dan pikiran gara-gara perbedaan partai politik dan lain sebagainya maka kita sebaiknya perlu ketelitian sebelum memaku baik mengenai ukuran persesuaian dengan barang yang akan dipaku dan memilih cara atau strategi yang tepat ketika hendak memaku.
Ada sebuah cerita tentang kebijakan seorang kyai Ndeso, suatu ketika ada seorang pengurus pondok senior yang mengadu tentang kenakalan seorang santri pada kyai tersebut kemudian kyai tersebut menulis semacam undang-undang/tata tertib pada secarik kertas, namun ketika peraturan itu akan ditempelkan pada sebuah dinding di gerbang pintu pondok sang kyai malah justru melarangnya lantas sang kyai memerintahkan untuk ditempelkan di bawah beduk
Sekilas memang agak aneh, namun ketika santri nakal pulang larut malam dia kebingungan untuk mencari tempat tidur dan tak mungkin dia akan tidur di kamar pondok satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah tidur di masjid lantaran dirinya kuatir akan bangun kesiangan walhasil santri tersebut akhirnya tidur tepat dibawah beduk, fatwanya singkat.
Sekilas, memang tampak aneh memang. Namun ketika santri yang nakal itu pulang larut malam, dia kebingungan untuk mencari tempat tidur. Tak mungkin dirinya masuk kekamar pondokan. Satu-satunya tempat yang sangat memungkinkan, adalah tidur dimasjid pesantren. Lantaran dirinya kawatir bangun kesiangan, santri tersebut tidur tepat dibawah beduk, dengan alasan ketika beduk shubuh ditabuh dirinya pasti akan bangun dan beranjak mengikuti shalat berjamaah.
Namun betapa terkejutnya sang santri setelah mendapati tulisan kyai yang tertempel dibawah beduk. Pikirnya betapa “ sakti ” nya sang Kyai yang mengetahui dirinya yang akan tidur persis dibawah beduk. Walhasil dengan ketulusan menanggung beban rasa malu, akhirnya dirinya menyatakan permintaan maaf sedalam –dalamnya dan berjanji mengakhiri kenakalannya. Kesimpulannya Kebijakan yang tepat bisa membidik sasaran tanpa melibatkan pihak yang lain.
Recent Entries
- Mipa Unesa buka bareng yatim CI Surabaya
- Yatim Surabaya buka bersama Dirjen Pajak
- Indahnya buka bareng yatim surabaya
- yatim surabaya tulis lailatul qodar
- ulang tahun di asrama yatim surabaya
- Kompas yatim surabaya
- yamaha surabaya terdepan bersama yatim
- Bukber dengan Notaris Ranti Surabaya
- Dirjend Pajak buka puasa dengan yatim
- Permohonan Yatim Surabaya buat Donatur












