ARTIKEL YATIM CI
ANAK
Adakah seorang anak harus merentang masa depannya sendiri? Hendaknya kita berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Sebab terlalu mengekang kemerdekaannya dengan tali disiplin yang terlampau ketat, kuranglah menguntungkan bagi perkembangan si anak, begitu pun sebaliknya, dengan melepas tali ikatan secara longgar justru bisa akan menjerumuskan diri mereka sendiri.
Setiap anak akan menyerap perilaku dari lingkungan terdekatnya. Dan orang tualah yang menjadi cermin awal dirinya. Bagi orang tua yang mengerti, mereka menyadari bahwa tanggung jawabnya hanyalah mengantarkan anak-anaknya ke masa depan miliknya. Jika orang tua memberikan lingkungan yang semau gue, itu sama artinya dia telah menorehkan nokta hitam pada kanvas yang putih. “Barang siapa yang menanam benih kebaikan, maka dia akan memetiknya jua. Dan bagi siapa yang menanam benih keburukan maka diapun akan merasakan akibatnya.” firman Allah di dalam Kalam suci-NYa.
Anak-anak memang harus pintar menggambar masa depannya sendiri. Tetapi ketika masih terbata-bata dalam mengeja peta hidupnya, orang tuanyalah yang menyodorkan kanvas dan kuas buat bekal dirinya di hari esok. Sayangnya, tak jarang si anak keliru dalam menafsirkannya. Lantas kemana-mana mereka membanggakan orang tuanya dengan segala fasilitas hidupnya. Bahkan mereka begitu fasih menyanjung-nyanjung garis silsilah nenek moyangnya, asal-usul keturunannya, keberhasilan para penghulunya hingga alpa pada tanggung jawab masa depannya sendiri.
KH A Wachid Hasyim pernah berpesan: Kita jangan hanya pintar mengagumi kepandaian-kepandaian, kelebihan-kelebihan dan keberhasilan-keberhasilan orang-orang terdahulu. Sementara kita sendiri tak pernah berupaya, agar kelak diri kita juga dikagumi oleh generasi-generasi setelah kita. Hal senada juga tertera dalam sebuah maqalah; “Bukanlah dikatakan sebagai pemuda bagi siapa yang mengatakan inilah bapakku. Tetapi pemuda itu adalah mereka yang berani mengatakan inilah aku.”
Kata orang bijak bestari, kita semua terlahir sama-sama telanjang dan dari benih yang sama pula – yakni keturunan Nabi Adam. Setiap kita akan memperoleh sesuai dengan apa yang kita upayakan, maka jangan terlena oleh fasilitas yang melengakan kedirian kita. Jangan mabuk kepayang lantaran sanjung puja orang-orang sekeliling kita. Jangan sampai pula terninabobokkan oleh bahtera yang indah terdayung, karena sewaktu-waktu akan dapat menenggelamkan diri kita ke dalam lautan tak bertepi.
Jangan hanya karena lahir sebagai anak orang bermartabat dan perpangkat, lalu senantiasa meminta agar dituruti apa saja yang diinginkan dan diangankannya, jika hal itu akan difasilitasinya jua, maka kelak anak tersebut akan jatuh terjerembab ke jurang kehancuran. Sebab anak-anak semacam itu, justru tak pernah menjadi dewasa lantaran telah kehilangan permasalahan yang menuntut tanggung jawabnya pribadinya sendiri.
Apa yang kini tengah dinikmatinya, tak disadarinya bahwa itu semua merupakan hasil dari jerih payah orang tuanya. Anak-anak itu terlenakan dan menjadi besar kepala atas fasilitas dan penghormatan yang diberikan orang lain kepada orang tuanya. Lebih fatal lagi, jika justru anak-anak tersebut sengaja malah menyalah gunakan nama besar orang tuanya.
Agar anak-anak kita tak terlanjur terjerat, segeralah hantarkan mereka agar menjadi dirinya sendiri. Tanamkan padanya, bahwa apa yang telah kita peroleh dan miliki, kelak belum tentu itu semua akan dapat mereka raih dan miliki pula. Baik itu berupa posisi, fasilitas, kekayaan dan jabatan. Semua itu bergantung pada diri mereka sendiri. Orang lain akan menghargai mereka, jika anak-anak kita juga gemar belajar menghargai orang lain.
Tanamkan juga padanya, bahwa keberhasilan orang tuanya dulu tak akan datang hanya dengan bertopang dagu berpangku tangan. Sebab mereka begitu getol berkerja keras, menuntut ilmu, berjerih payah, basah kuyup dalam proses perjuangan, serta begitu peduli terhadap keberadaan orang lain. Baik itu untuk kebajikan dunia, lebih-lebih dalam mencapai jalan keabadian ahirat.
Yang terpenting dari itu semua, bekalilah anak-anak kita dengan ilmu dan akhlaq. Itulah saran teragung yang akan membawa mereka ke pulau masa depan – yang barangkali diki kita tak sempat menjamahnya. Berikan motivasi kepada mereka, bahwa kepak sayapnya haruslah lebih luas terbetang melebihi jarak yang pernah ditempuh oleh orang tuanya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,
” Bekalilah anak-anakmu dengan ilmu pengetahuan. Sebab mereka adalah generasi yang akan hidup di suatu masa, yang era masa itu sangat-sangatlah berbeda dengan era masa kamu sekarang.”
Setiap pemuda itu, memanggul tanggung jawab buat masa depannya. Maka jangan pernah lahirkan suatu generasi yang suwargo nunut neroko katut. Bagi pemuda yang pandai-pandai dalam memanfaatkan waktunya, maka kelak dia akan mengenggam masa depannya. Percayalah, bahwa masa depan memang milik para pemuda yang gemar berjuang di masa kekinian, jika mereka lebih suka bermalas-malasan dihari ini, maka di hari esok dia pasti akan tergilas oleh masa! …….Wallahu a’lam bish-shawab….!
Recent Entries
- qurban di yatim panti asuhan cahaya insani surabaya
- yatim surabaya dimanja oleh arisan bery pengajian bery di Grand City
- fakultas Ekonomi Unair buka puasa bareng yatim surabaya
- permohonan yatim surabaya di bulan ramadhan 1432 H
- yatim surabaya dikunjungi dinas perhubungan
- panti asuhan yatim surabaya butuh dana buat pengecoran lantai dua
- yatim surabaya mendo’akan yang akan masuk UMPTN
- yatim CI surabaya kondangan mendo’akan donatur sakit
- yatim panti asuhan surabaya diundang ultah di Mac Donald Surabaya
- yamaha surabaya TERDEPAN ngasih santunan yatim surabaya












