ARTIKEL YATIM CI
PEMIMPIN
Betapa pentingnya pemimpin. Sehingga satu komunitas atau bahkan cuma diantara dua-tiga orang saja, Sang Rasul memerintahkan agar dipilih satu orang sebagai pemimpin di antara mereka. Tetapi di jaman ini, masih adakah pemimpin – orang yang mau mengurusi bawahannya, dengan segenap pikiran, tenaga, dan keringat bahkan harta ataupun kalau-kalau perlu nyawa?
Pada aliran sejarah bangsa-bangsa yang telah lalu, dalam perspektif kepemimpinan, nyaris meninggalkan jejak-jejak yang muram. Sebab nyatanya, hampir setiap bangsa lebih sering melahirkan seorang penguasa dan jarang sekali menghadirkan pemimpin bagi rakyatnya. Bahkan kebengisan para penguasa itu yang tapak-tapaknya memenuhi peta-peta benua, telah diabadikan pada lontar sejarah. Pada kesejarahan agama-agamapun, kehadiran Nabi-Nabi juga kerapkali diperuntukkan buat mengobarkan api pergolakan, demi kebangkitan dari rasa ketertindasan oleh raja-raja yang lalim.
Antara pemimpin dan penguasa, tentu memendam psikologi perwatakan yang berbeda. Kepemimpinan lebih menjanjikan buat kesejahteraan yang dipimpinnya, terasa menyejukkan, menawarkan rasa tenteram, menghamparkan perlindungan. Setidaknya, kepemimpinan menyiratkan keramahan, sebagai tempat berbagi persoalan dan sebagai kotak pos 5000 pengaduan. Dalam sistem kepemimpinan semacam itu, tentu saja absah dijadikan sebagai tempat menggantungkan harapan-harapan. Sehingga rakyat bisa tidur pulas dan bebas menggambar mimpi-mimpinya.
Tetapi kekuasaan lebih bersifat menindas, penjara pemaksaan bagi yang dikuasainya, alat penipuan yang sangat mujarab, mesin pembodohan, laboratorium pemerkosaan hak-hak azasi yang manusiawi, pisau yang mengiris-iris dari setiap pemikiran dan sikap yang kritis, juga tempat praktek pencurian lewat tradisi korupsi yang culas. Oleh karenanya, kekuasaan merasa emoh terhadap kritikan. Sebab tidak ada lagi tempat berbagi dari secuil kue kekuasaan yang rakus. Yang ada hanyalah berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, bahkan lamunan yang tak lumrah pun sudah dianggap membahayakan dan dicap telah merong-rong kelanggengan.
Kekuasaan memang senantiasa penuh dusta. Meskipun sesungguhnya, diam-diam dirinya memendam semacam ketakutan. Maka tidak ada toleransi, tak ada bargaining, tak tersisa kata maklum, apalagi kata maaf yang melegakan.
Namun sebaliknya, kepemimpinan lebih menawarkan bimbingan, komonikasi yang santun, merentang kerjasama, penuh pemakluman, tak menakut-nakuti bahkan merentang garis stratifikasi yang batas-batasnya terlampau tipis sekali, bahkan nyaris sama.
Oleh karena itulah, teramat dibutuhkan sebuah kejelian dalam memilih dari setiap pemimpin. Pemilihan semacam itu, tak segampang layaknya menuding warna pelangi, merah, kuning, hijau di langit yang biru. Sebab dari setiap biji pilihan, telah mengandung sebuah benih pertanggung jawaban yang agung.
Jika pilihan itu tepat, maka kehidupan setelahnya akan menuai kebahagiaan. Seperti sabda Rasulullah yang artinya: “Kalau saja pemimpin-pemimpin kamu adalah orang-orang pilihan kamu, dan orang-orang kaya kamu adalah orang-orang yang dermawan di antara kamu, dan permasalahan-permasalahan kamu dimusyawarahkan di antara kamu, maka hidup di bumi ini jauh menyenangkan daripada berkalang tanah”.
Akan tetapi jika pilihan disodorkan pada sosok terpilih yang salah, ia tak memunculkan figur pemimpin yang bijak, melainkan penguasa yang akan mencengkeram setiap orang yang dianggapnya berdiri secara berseberangan. Sebab bagi tradisi logika kekuasaan, kebenaran cuma berwarna tunggal tak ada mozaik, tak menawarkan keragaman, tidak ada lagi gemerlap panorama pada cuaca langit yang cerah.
Dus, kekuasaan selamanya tetap kekuasaan, selalu bermuram durja, benang pikiran yang kusut, mata pandang penuh prasangka, hati yang selalu curiga, perasaan yang was-was, jiwa yang ketakutan, serta secuil tidur yang tak pernah nyenyak. Maka dari setiap benih kekuasaan yang menyeruak dari diri manusia, haruslah selekas mungkin untuk dibakar dalam tungku kemanusiaan.
Lantas setiap orang berkewajiban untuk membangkitkan sikap, sifat dan watak kepemimpinan. Sabda Rasul agung Muhammad SAW yang artinya: “ Bahwa dari setiap kamu sekalian sesungguhnya dianugerahi potensi sebagai pemimpin, dan kelak akan dituntut pertanggung jawabannya dari perihal kepemimpinannya.”
Apabila kita gagal dalam kepemimpinan yang terkecil yakni diri sendiri, keluarga dan lingkungan masyarakat, maka tak usah berharap bakal sanggup menjadi sang pemimpin yang besar, bangsa, negara dan agama.
Ah, betapa nian sulitnya memilih figur yang sanggup tampil sebagai pemimpin itu?! Sebab memilih tak segampang layaknya menuding warna pelangi merah, kuning, hijau di langit yang biru.
Buletin Al-Insaniyah












