YATIM MENULIS
“ ILMU MENGHADIRKAN “
Seorang pemuda menemui Nabi Muhammad SAW. Ia berkata, “Ya Nabi Allah, izinkan saya berzina!” Orang-orang berteriak mendengar pernyataan itu. Tetapi Rosulullah SAW Bersabda,” Suruh dia mendekat padaku” Pemuda itu menghampiri Nabi dan duduk di hadapanya. Nabi berkata kepadanya,” Apakah kamu suka orang lain menzinai ibumu?” Segera ia menjawab,”Tidak, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Nabi Saw. Bersabda, “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’’ ‘’Sukakah jika perzinaan itu terjadi pada anak perempuanmu?” ‘’Tidak, semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.” “Begitu pula orang lain, tidak ingin perzinaan itu terjadi pada anak perempuan mereka.” “Sukakah kamu jika perzinaan itu terjadi pada saudara perempuanmu?”
Begitulah Rosulullah SAW. menyebut bibi dari pihak ibu dan pihak bapak. Untuk semua pertanyaan Nabi, pemuda itu menjawab,” Tidak!”Rasulullah Saw meletakkan tangannya yang mulia pada dada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan pelihara kehormatanya. ”Setelah itu tidak ada yang paling dibenci pemuda itu selain perzinaan ( Al-Manar, 4:33 )
Ketika saya membaca hadits ini, saya teringat pada sebuah artikel majalah Harper’s, Agustus 1988. Judulnya: Reflektions of A Gang Banger (Renungan Tokoh Gang). Ketika diwawancarai, tokoh gang kenamaan itu berkata, “Aku dulu suka mengompas orang Ya, kadang-kadang dengan pistol di tangan, mencengkeram atau merogoh kantong mereka. Sebab, kelakuan begitu, kupikir enak. Tetapi, kalau kamu mulai tua, kamu tidak ingin orang lain berbuat begitu kepadamu. Kamu juga tidak bakalan rela seseorang menyerang ibumu, mengambil dompetnnya, atau apa sajalah. Nah, aku mulai berfikir, aku tidak mau berbuat seperti itu lagi, karena bila ada orang berbuat seperti itu kepada ibuku, aku siap membunuhnya. Ya mulai saat itu, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan.”
Ada rentangan zaman yang sangat panjang antara dua diaolog itu. Tetapi, ada benang emas yang menghubungkan ke-duanya. Manusia menjadi lebih baik, bila ia dapat merasakan pengalaman orang lain seperti orang itu mengalaminya sendiri. Ia bukan saja membayangkan pikiran atau perasaan orang lain, ia melibatkan seluruh dirinya dalam pengalaman orang lain itu. Ia mengalaminya sendiri. Martin Buber, filosof ekstensialis, menyebutkan making present –menghadirkan.
Para filosof Islam telah lama membahas sejenis ilmu,” menghadirkan”, yang mereka sebut ilmu hudhuri. Anda dapat mengetahui keberadaan Tuhan dengan BuEtPbukti ‘aqli maupun naqli. Tetapi, pengetahuan ini tidak akan mempengaruhi kehidupan Anda. Hanya, ketika Anda merasakan atau mengalami kehadiran Tuhan, seluruh eksistensi Anda akan mengalami perubahan.
Anda dapat mambaca hadits-hadits Nabi Saw. dengan cermat. Anda dapat membahasnya dengan sangat mendalam. Tetapi, hadits-hadits itu hanya akan mengubah diri Anda, bila Anda dapat merasakan perasaan Nabi dan mengalami pengalaman Nabi. Berkuncang tubuh Anda, berdiri bulu kuduk Anda, meregang seluruh serabut otot Anda ketika di ceritakan pertemuan Nabi saw. dengan Allah di Sidrah al-Muntaha.menetes air Anda, serasa langit jatuh mengimpit Anda sesak nafas anda ketika diriwayatkan bahwa Nabi Saw. menyampaikan khutbah terakhir.
Dapatkah setiap orang ”menghadirkan” pengalaman orang lain dalam dirinya? Tidak selalu. Secara potensial, setiap orang di bekali kemampuan untuk itu. Pada sebagiannya, potensi ini teraktualisasi pada sebagian lagi potensi ini terabaikan sama sekali. Ketika Nabi Saw. di beritahu akan bencana beruntun yang akan menimpa umat Islam sepeninggalanya, beliau tidak bisa tidur. Beliau di laporkan tidak pernah tersenyum setelah itu.
Al-Qur’an menggambarkan pengalaman Nabi Saw. dengan indah : “Telah datang kepadamu Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya kepedihan yang kamu tanggung. Ia ingin sekali kamu memperoleh kebahagiaan, sangat lembut dan sangat penyayang kepada kaum mukmin.” (QS.9:128). Pada diri Nabi, seluruh potensi “menghadirkan” itu tertualisasi.
Apakah Anda sedih, ketika jutaan ibu mati pada waktu melahirkan karena kekurangan gizi, ketika tak terhitung pasien yang meninggal “di pulangkan” dari rumah sakit, karena tidak sanggup membayar pengobatan, ketika banyak sekali anak-anak sekolah meninggalkan sekolahnya dan membakar tubuh mereka pada terik matahari, hanya sekedar untuk bertahan hidup? Dapatkah Anda rasakan kepedihan anak-anak kecil yang Anda yatimkan dengan kerakusan Anda? Tergetarkah hati Anda, ketika ribuan orang kehilangan pekerjaan karena proyek besar Anda? Apakah Anda merasakan perihnya perut dan lesunya tubuh pegawai-pegawai Anda yang Anda bayar dengan murah? Apakah Anda marah, kecewa, dan sekaligus nelangsa, ketika Anda mendengar TKW Indonesia disiksa majikannya di Saudi Arabia?
Saya khawatir Anda menjawab “tidak” untuk semua pertanyaan itu. Tetapi, “tidak” Anda tidak sama dengan”tidak”-nya pemuda yang di Tanya oleh Rasulullah saw. “tidak” Anda menunjukan betapa sulitnya “menghadirkan” pengalaman orang lain, walaupun dia saudara Anda sebangsa dan setanah air.
(diangkat dari Reformasi sufistik, dlalaluddin Rahmat, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002-AH).
Recent Entries
- qurban di yatim panti asuhan cahaya insani surabaya
- yatim surabaya dimanja oleh arisan bery pengajian bery di Grand City
- fakultas Ekonomi Unair buka puasa bareng yatim surabaya
- permohonan yatim surabaya di bulan ramadhan 1432 H
- yatim surabaya dikunjungi dinas perhubungan
- panti asuhan yatim surabaya butuh dana buat pengecoran lantai dua
- yatim surabaya mendo’akan yang akan masuk UMPTN
- yatim CI surabaya kondangan mendo’akan donatur sakit
- yatim panti asuhan surabaya diundang ultah di Mac Donald Surabaya
- yamaha surabaya TERDEPAN ngasih santunan yatim surabaya












