Anak nakal sapa yang salah

Anak Nakal…., Siapa Yang Salah…??

Setiap orang tua tentu berharap mempunyai anak yang sehat, pintar, dan berkepribadian luhur. Namun tidak semua harapan itu dapat terwujud. Sebab kenyataannya tidak sedikit orang tua yang di buat pusing dan cemas akibat ulah anaknya yang nakal. Misalnya, anak bandel, cuek, suka menyakiti temannya, sering berkelahi, sering mencuri dan sebagainya. Nah, kalau sudah demikian siapa yang salah? Dalam masalah ini biasanya anak itu sendiri yang seringkali di jadikan kambing hitam.

Menurut pakar psikologi Hawaim Machrus, MS. Bahwa keterlibatan anak dalam tindak kriminalitas ( kenakalan anak ) itu di pengaruhi :

  • Pertama : Keluarga yang kurang perhatian pada anak.
  • Kedua. Lingkungan sosial yang kurang sehat.
  • Ketiga : Penegakan hukum yang masih lemah.

Sedang menurut Dr.Nashih Ulwan bahwa penyimpangan perilaku anak dan remaja sering di latarbelakangi adanya “broken home”, kelalaian orang tua, kefakiran, musibah keyatiman, hubungan yang tidak kemunikatif dalam keluarga dan adanya banyak pengangguran. Dari kedua pendapat tersebut dapat dipahami bahwa faktor eksternal yakni faktor sosiologis dan ekonomi yang ekonomi yang lebih dominan, meskipun terkadang kuatnya dorongan perilaku tidak baik itu muncul dari faktor internal anak.

Karena itu, bukanlah sikap yang bijaksana jika kesalahan kenakalan anak itu di timpahkan secara keseluruhan pada anak itu sendiri. Sebab realitasnya tidak semua penyebab kenakalan anak itu dari internal anak, tapi lingkungan dimana anak itu tumbuh dan berkembang yang lebih banyak mewarnai perilaku anak.

Lingkungan keluarga adalah yang pertama dan utama bagi anak. Ibu, bapak dan anggota keluargalah yang mempunyai andil besar terhadap sosialisasi dan pembentukan kepribadian anak. Bimbingan, perhatian, dan curahan kasih sayang ibu merupakan kebutuhan alamiah yang tidak bisa diganti oleh sang pembantu. Kecenderungan anak yang sejak kecil tidak cukup mendapat bimbingan, perhatian, dan kasih sayang ibu dan bapaknya akan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung memusuhi lingkunganya. Karena ia merasa tidak di terima dalam lingkungannya. Akibatnya ikatan batin dengan kedua orang tuanya akan menjadi semakin longgar.

Untuk sekedar ilustrasi, dapat kita bayangkan di zaman modern ini hidup penuh rivalitas, kompetitif, dan serba eksplosif. Banyak orang tua (ibu) yang cenderung sibuk dengan urusan profesi, karier, dan bisnis. Sehingga sebagian besar waktu, tenaga dan pikiran mereka curahkan demi profesi dan karier. Sehingga tidak sedikit yang lupa dengan tugas mereka yang paling pokok (dasar), yakni sebagai ibu rumah tangga, istri, dan pendidik putra-putrinya.

Bagaimana dalam kehidupan rumah tangga dapat harmonis jika seorang ayah sering terlambat atau bahkan jarang pulang kerumah karena sibuk dengan bisnisnya, sedang sang ibu juga sibuk dengan profesi, karier dan acara-acara lainya. Sementara sang anak di rumah kadang hanya di temani pembantunya. Meskipun secara finansial kebutuhan anak terpenuhi, namun semata-mata bukanlah itu sebenarnya yang di inginkan anak, tapi bimbingan, perhatian, dan curahan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang di rindukannya.

Nah, kalau memang demikian keadaannya, maka makin lama akan terjadi kesenjangan di antara anggota keluarga, dan kompensasinya masing-masing dari mereka akan berusaha mencari kepuasan, hiburan, dan kesenangan ala-nya sendiri-sendiri. Maka dampaknya rumah tangga bisa jadi tidak harmonis, bahkan lebih jauh keretakan rumah tanggalah yang mungkin bakal terjadi. Dan barangkali faktor inilah yang seringkali jadi penyebab timbulnya kenakalan anak atau remaja.

Selain itu, halal tidaknya makanan dan minuman yang di konsumsi anak akan berpengaruh pada kepribadiannya. Bahkan sebelum anak lahir, banyak para pakar pendidikan yang menyatakan pengalaman seorang ibu baik secara fisik maupun psikis semasa hamil akan berpengaruh terhadap anak yang akan bakal lahir nanti. Karena itu, kedua orang tua, lebih-lebih sang ibu hendaknya senantiasa berpikir dan berperilaku yang positif.

Pada dasarnya mendidik anak adalah kewajiban kedua orang tua, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahriim:6). Perintah untuk memelihara diri dan keluarga berarti harus berusaha membekali diri dan keluarganya dengan ilmu yang dapat menyelamatkan dari api neraka, yakni ilmu agama. Maka konsekuensinya kedua orang tua wajib mempelajari ilmu agama dan mengajari anaknya. Karena baik buruknya kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh orang tuanya.

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah anak yang di lahirkan itu kecuali membawa fitrah, maka kedua orang tuanya yang akan menjadikan anak itu yahudi, nasrani, atau majusi.”(HR.Muslim).

Dan ayat dan hadits di atas dapat dipahami, bahwa peranan orang tua sangat besar sekali dalam pembentukan kepribadian anak. Karena itu, jika mereka tidak mampu atau tidak sempat mengajarinya, maka mereka harus berusaha mencarikan guru atau sekolahan yang dipercaya dan membimbing anaknya agar kelak menjadi anak yang sehat, pintar, dan berkepribadian luhur.

Dalam mendidik anak, baik orang tua maupun guru hendaknya hati-hati. Jika menghukum hendaknya yang proporsional, hukumannya tidak membahayakan, tidak kasar, tidak mencemooh, atau menghina, tapi sebaliknya penuh perhatian dan kasih sayang serta berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan, aman, dan nyaman.

Selain itu, para orang tua hendaknya berusaha memahami fase-fase perkembangan anak. Sebab dalam setiap fase perkembangan anak itu mempunyai kecenderungan yang berbeda.

Bookmark and Share

Recent Entries

Leave a Reply