tentang namimah oleh yatim
NAMIMAH
Rasulullah SAW pernah melontarkan suatu perbandingan yang sangat menyolok. sebaik-baik umatku, sabdanya, adalah mereka yang bila di pandang menyenangkan segera ingat kepada Allah. Dan seburuk-buruk umatku, kata beliau, adalah mereka yang berkeliaran menebar api fitnah kemana-mana. Mereka suka mengadu orang yang karib persaudaranya hingga berpecah-belah.
Hikayat singkat dari masa-masa perbudakan di bawah ini, barangkali bisa menjadi cermin renungan buat kita. Syahdan, pergilah seorang juragan ke pasar perbudakan. Ketika hendak membeli seorang budak, dia mendapat keterangan dari seorang penjual. Bahwa sang budak, adalah orang yang kuat, kekar, rajin bekerja, dan sangat menarik. Hanya saja kelemahannya, kata sang penjual, dia gemar berbuat namiman.
Tetapi sang juragan menganggapnya enteng kelemahan tersebut. Sehingga tanpa piker panjang, di belinya sang budak itu dan segera di bawanya pulang. Selang beberapa waktu, segera si budak itu menebarkan omongan yang bukan-bukan. Sang istri juragan, semula menanggapinya biasa-biasa saja. Namun ketika bercerita bahwa suaminya akan kawin lagi dengan perempuan yang jauh lebih memikat, hati sang istri pun tampak mulai gusar.
Maka dia memutuskan untuk mengurungkan niat suaminya itu. Ketika meminta nasihat si budak, di sarankan untuk meminta bantuan seorang dukun. Caranya, dengan mengambil beberapa helai rambut sang suami yang berada di bagian leher, lalu di bawa ke dukun untuk di guna-gunai. Agar kerjanya bisa cepat sekali sehingga sang suami tak merasakannya, di sarankan pula untuk memakai pisau yang sangat tajam. Sang istri pun menangguk-anggukan kepala tanda setuju.
Setelah sang istri berhasil di pengaruhinya, si budak pergi menemui sang juragannya. Lalu dia bilang, bahwa sang istri juragan telah membuat rencana untuk membunuh dirinya. Mendengar hal itu, tentu saja sang juragan sempat terkejut. Namun dirinya mencoba untuk tidak begitu mempercayainya. Namun lantaran si budak terus-menerus mempengaruhinya, maka sang juragan pun akhirnya terpengaruh juga, “Jika juragan tidak mempercayainya, “kata si budak, “nanti malam boleh di buktikan.” Lalu dia memberikan saran agar sang juragan pura-pura saja tidur. Dengan begitu dirinya akan tahu apa yang sebenarnya hendak di perbuat oleh istrinya.
Malam pun kian bertambah larut. Sang istri berjalan mengendap dari dapur kemudian masuk kekamar sang suami. Lantaran di dapati suaminya telah tidur mendengkur, di belainya rambut sang suami di bagian leher. Dada sang juragan pun berdegup kencang. Jantungnya berdetak dag dig dug tak karuan. Aliran darahnya keras sekali. Tetapi sebelum sang istri sempat memotong rambutny, sang suami yang berpura-pura tidur itu langsung bangkit berebut pisau yang ada di tangan istrinya. Lalu saking marahnya, dirinya langsung menusukkan pisau itu ke jantung istrinya. Maka tubuh itu pun mati terpakar seketika.
Setelah pihak istri mendengar kematiannya yang tak wajar, mereka pun lantas menuntut balas; hutang nyawa balas nyawa. Mendengar ancaman seperti itu, keluarga pihak suami pun tak tinggal diam. Maka terjadilah suatu pertikaian yang tiada ujung; satu dua nyawa pun mulai saling berjatuhan. Sementara si budak yang gemar malakukan namimah itu, seakan tak tahu menahu persoalan tersebut. Ibarat pepatah, lempar batu sembunyi tangan.
Seseorang yang terjangkiti penyakit namimah (tukang adu-adu), dirinya akan selalu berkeinginan untuk menghancurkan orang lain. Suka mengadu orang-orang sekitar, merusak hubungan mesra antar orang perorang, meretaskan ikatan tali kokoh suami istri, serta gemar membenturkan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya.
Oleh karenanya, namimah di hukumi haram dan bagi yang melakukannya akan terkenai dosa yang besar. Sebagaimana yang telah di firmankanNya dalam Al-Qur’an, bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan. Maka Allah SWT dalam surah al-Qalam ayat 10-11 telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti setiap orang yang gemar bersumpah lagi hina, yang banyak mencela dan berjalan kesana-kemari sambil menebar fitnah.”
Ketika di landa sebuah kemarau yang panjang, Nabi Musa a.s. pernah bersama umatnya selama berwaktu-waktu berdoa kepada Allah, agar segera di turunkannya hujan. Tetapi selama itu pula, hujan itu pun tak kunjung tiba. Dan Musa pun terus mendekatinya dengan tiada rasa putus asa. Maka turunlah sebuah firman: doamu tak akan pernah Kukabulkan, selama di antata orang yang mengikutimu masih terdapat orang yang suka berlaku namimah. Setelah melakukan sebuah pertaubatan masal, baru rahmat hujan itu pun mengguyur membasahi bumi. Nabi SAW sangat tegas mengutuk orang yang suka mengadu-domba ini.
Recent Entries
- Mipa Unesa buka bareng yatim CI Surabaya
- Yatim Surabaya buka bersama Dirjen Pajak
- Indahnya buka bareng yatim surabaya
- yatim surabaya tulis lailatul qodar
- ulang tahun di asrama yatim surabaya
- Kompas yatim surabaya
- yamaha surabaya terdepan bersama yatim
- Bukber dengan Notaris Ranti Surabaya
- Dirjend Pajak buka puasa dengan yatim
- Permohonan Yatim Surabaya buat Donatur












