Sufi dari balik yang melegenda catatan yatim

IBRAHIM IBNU ADHAM

SUFI DARI BALIK YANG MELEGENDA

Di kenal dengan nama Ibrahim bin Adham atau Ibnu Adham. Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin Manshur bin Yazid bin Jabir (Abu Ishaq) at-Taimi al-Ijli. Seorang ahli tasawuf Mesir, mengatakan Ibnu Adham wafat tahun 161 H (777 M) ketika ikut peperangan melawan kekaisaran Bizantium. Ia di makamkan di dekat benteng Suqaim, sebuah tempat yang terletak diwilayah kekaisaran Bizantium.

Pada masa kanak-kanak dan sebelum menjadi sufi, ia hidup dalam lingkungan keluarga raja, karena ayahnya termasuk raja di Khurasan (Iran). Setelah menjadi sufi, ia pergi mencari tempat yang sesuai dengan dirinya. Mula-mula ia pergi ke Irak. Namun di sana ia tinggal sebentar karena tidak cocok untuk kehidupannya. Kemudian ia tinggal di Suriah dalam waktu yang cukup lama dan tidak pernah kembali lagi ke Khurasan sampai akhir ayatnya. Suriah menurut pengakuannya, merupakan tempat yang menyenangkan bagi kehidupannya dan tempat yang sesuai dengan tuntunan agamanya.

Ia pernah menziarahi negeri-negeri lain seperti Iskandariyah di Mesir, Yordania, Basra dan Mekah. Sekitar tahun 744 M ia pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan menuju Mekah, ia singgah di Kufah dan berkenalan dengan seorang wanita bernama Shalihah yang kemudian di kawininya.

Awal kesufiannya mempunyai kisah tersendiri yang berbeda dengan sufi yang lain. Dalam ceritanya Ibnu Adham adalah seorang yang senang berburu. Ketika ia berburu menaiki kuda, ia di kagetkan dengan seekor kelinci yang tiba-tiba mengagetkannya, ia lalu menggiring kudanya mendekat kearah binatang itu. Terdengar sauara dari arah belakang, “bukan untuk ini engkau di jadikan dan bukan dengan ini engkau diperintahkan”. Ibnu Adham mencari suara itu kekiri dan kekanan, namun ia tidak melihat seorang pun. Karena itu ia berkata, “Semoga Allah SWT melaknatmu, ya iblis.” Ketika ia menggiring kudanya suara itu terdengar lagi. Ibrahim sepontan menjawab “Demi Allah SWT, bukan untuk ini aku diciptakan Tuhan, dan bukan dengan ini pula aku diperintahkan.” Segera ia pulang, dan sesampainya di rumah ia meninggalkan kudanya dan menemui pengembala ternak ayahnya. Ia meminta jubah dan sarung yang dipakai pengembala untuk di tukar dengan pakaiannya. Ia pun pergi menggembala meninggalkan negerinya menuju Irak.

Sebagai sufi, ia tidak menganut konsep at-tawakul wa tark al asbab (bertakwa kepada Allah hdan meninggalkan kausalitas), tetapi ia menganut al-amal wa al-akhz bi al asbab ma’a at-tawakul ‘ala Allah (berusaha dan menganut kuasalitas disertai dengan tawakal kepada Allah). Hal ini dibuktikannya dalam kenyataan hidupnya sehari-hari. Selain taat melakukan ibadah kepada Allah SWT, ia juga melakukan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti bertani. Itu menggambarkan bahwa ia adalah salah seorang yang diberi kebahagiaan dan kenikmatan oleh Allah SWT. Ia mengatakan, “sekiranya para raja dan anak-anaknya mengetahui kebahagiaan dan kenikmatan yang ada pada kami, maka mereka akan menyiksa dan memukul kami dengan pedang karena kenikmatan hidup yang kami rasakan.” Ia orang miskin yang tidak punya apa-apa, tetapi sering berpuasa baik dalam keadaan musafir maupun mukmin.

Menurutnya kekafiran adalah simpanan di langit yang di anugerahkan Allah SWT kepada orang yang ikhlas beribadah kepada-Nya. Kekafiran ini menurutnya sama dengan kesaksian kepada Allah SWT kecuali pada orang yang di cintai-Nya. Semboyannya yang terkenal dalam hal ini: “jika engkau senang dengan apa yang ada, maka engkau bahagia. Tetapi jika engkau sedih karena tidak ada, maka engkau celaka.”

Bookmark and Share

Recent Entries

Leave a Reply