Etika Konseling Yatim

ETIKA KONSELING DAN SIKAP DASAR KONSELOR

TUJUAN PEMBELAJARAN :

  1. Memahami prinsip-prinsip etik konseling
  2. Memiliki kepedulian dan empati terhadap kliennya
  3. Memiliki komitmen dan tanggung jawab penuh kepada klien
  4. Menerima dan memperlakukan klien secara apa adanya
  5. Menghargai martabat dan harga diri klien
  6. Menjaga kerahasiaan klien
  7. Memenuhi hak klien untuk mengambil keputusan dan menentukan dirinya sendiri.
  8. Mencegah tindakan moral hazard selama menjalankan tugas sebagai konselor
  9. Prinsip-prinsip etik dalam konseling

PERCAYA

Jika konselor ingin berhasil dalam membantu orang lain, maka ia membutuhkan kepercayaan dari klien. Tanpa kepercayaan, klien sulit untuk mengungkapkan masalah-masalahnya yang sangat pribadi. Memperoleh kepercayaan klien memerlukan waktu yang panjang, seiring dengan interaksi dan intensitas komunikasi konselor dengan kliennya.

Agenda konselor pada awal konseling adalah membina hubungan baik/rapport terhadap klien, sehingga tumbuh sikap saling percaya antara konselor dengan klien. Sungguh tidak mudah jika dua orang yang baru saja saling mengenal dituntut untuk membuka percakapan panjang lebar, apalagi menyangkut persoalan pribadi. Seyogyanya bagi konselor yang belum terlalu akrab dengan klien, memulai proses konseling dengan membangun hubungan baik dengan klien sehingga tumbuh rasa saling percaya.

HORMAT

Memperlakukan orang sebabagi manusia yang layak dihargai. Menghargai orang lain sebagai manusia yang mampu menemukan solusi-solusi atas persoalannya sendiri dan memandang positif kliennya, terlepas dari apa yang dilakukannya, dia telah berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuannya. Sikap hormat menyertakan keyakinan bahwa orang yang dibantu memiliki kemampuan untuk menanggung beban kehidupannya, bertumbuh dan berpotensi menebarkan pengaruh positif pada kehidupan.

rasa hormat pada harapan, hak dan martabat klien

Lakukan konseling pada tempat yang khusus

Jadilah pendengar yang baik, dan bersimpati

Bersabar, jangan menekan untuk mendapatkan informasi jika klien tidak siap

hanya tanyakan pertanyaan yang relevan

EMPATI

Empati adalah sepenuhnya memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Berjalan dengan menggunakan sepatu orang lain. Jika hubungan bersifat hangat, kasih dan empatik, klien akan merasa dihargai dan aman untuk berbagi masalah yang sangat pribadi. Hubungan semacam ini memungkinkan konselor lebih mampu memahami sudut pandang klien, dan secara tepat mengidentifikasi perasaan-perasaannya.

MENERIMA

Menerima klien sebagaimana adanya, sehingga konselor dapat berhubungan dekat dengan klien. Klien akan merasa dihargai, merasa nyaman, berpandangan positif terhadap kepribadiannya dan berkembang lebih maju. Sebaliknya jika klien dikritik, maka yang muncul adalah sikap tidak mau berubah, malah mungkin semakin kental dengan pendapat dan perilakunya sendiri.

Jangan menilai ! walau sulit untuk tidak menilai atau menyalahkan orang lain. Seseorang tidak akan membangun hubungan jika melalui penilaian. Konselor perlu belajar menghargai dan menghormati orang lain tanpa menyalahkan.

menerima keberadaan kliennya sebagaimana ia ada.

Tidak melihat klien semata-mata berdasarkan kesalahan, kelemahan dan kegagalannya saja. Tetapi menempatkan hal-hal yang negatif tadi pada konteks yang tepat, yaitu kehidupannya secara utuh sebagai suatu pribadi yang unik, yang persoalannya pantas dipecahkan, kata-katanya pantas dipertimbangkan.

Namun hal ini tidak berarti bahwa konselor membenarkan atau menetralisasi apa yang salah pada klien. Tetapi sikap positif yang terencana sengaja dikembangkan dan dipraktekkan oleh karena konselor sadar bahwa melalui cara inilah mereka dapat mengetahui inti persoalan yang sebenarnya.

Acceptance merupakan kunci untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan untuk menjadi vulnerable (terluka). Rasa takut terluka membuat klien menjadi sulit terbuka. Melalui acceptance yang sejati klien terdorong untuk menemukan kepercayaan dirinya kembali sehingga ia mampu mengenali apa yang sedang terjadi, menilai sikap dan cara berpikirnya selama ini, dan memiliki new insight

Fully acceptance tidak sepenuhnya dapat dicapai oleh Konselor, namun sesuatu ini yang terus diupayakan.

MENCIPTAKAN RASA AMAN

Hampir setiap orang merasa aman jika ia sadar ada orang lain yang concern dengan persoalan yang dihadapi, mengerti apa yang dirasakannya, apalagi bersedia menolong setiap saat.

Untuk membantu orang lain, konselor perlu menciptakan hubungan dan lingkungan yang menjamin klien dapat berbicara secara bebas. Konselor dapat mempersiapkan ruang konseling yang menumbuhkan rasa aman bagi klien, misalnya jauh dari suara yang menganggu konsentrasi pembicaraan. Jika konseling dilakukan di sebuah lembaga maka lebih baik digunakan ruangan yang tertutup, sehingga pembicaraan tidak terdengar orang lain. Jika konseling harus menghadirkan orang selain klien, maka semua ini dilakukan atas persetujuan klien.

Rasa aman juga dapat tumbuh jika klien percaya kepada konselor bahwa kasusnya tidak akan diketahui oleh publik atau orang lain selalin konselor. Kepercayaan klien kepada konselor untuk menjaga kerahasiaan menjadi faktor penting untuk menumbuhkan rasa aman tersebut.

TULUS

Konselor menerima klien-nya secara tulus dan memandangnya dengan sikap positif. Menerima orang lain secara tulus berarti tidak berusaha menghakimi.

Tulus juga bisa bermakna tanpa pamrih. Relasi profesional antara konselor dengan klien memang bukan hubungan yang tanpa kompensasi apapun. Konselor profesional justru mendapat kompensasi yang sangat memadai. Namun, pamrih dalam konteks ini lebih dipahami sebagai upaya untuk tidak menjadikan klien sebagai obyek semata-mata, yang dimanfaatkan bagi kepentingan konselor. Justru kepentingan klien-lah yang menjadi pusat perhatian dan pelayanan konselor. Barangkali konselor memang tidak semata-mata berorientasi pada uang, namun hasrat dan ambisi untuk mengendalikan dan menguasai klien menjadi bentuk lain dari sifat pemanfaatan tersebut

JUJUR

Kata kunci yang harus dipegang oleh konselor adalah ‘menjadi dirinya sendiri’. Konselor harus tampil secara jujur di depan klien-nya, tidak perlu menunjukkan sikap yang dibuat-buat. Bagaimana sikap ini bisa diidentifikasi.

Ju jur pada dirinya sendiri, mengenal nilai-nilai yang dimiliki dan mengikuti nilai-nilai itu secara jujur. Jadilah diri anda sendiri, untuk menjadi konselor anda tidak perlu menghilangkan dan mengganti kepribadian anda secara menyeluruh. Klien tidak ingin ditipu, dan mudah mengenali sikap pura-pura. Klien tidak akan mempercayai anda jika anda berpura-pura menjadi orang yang berbeda dari diri anda sesunggguhnya. Klien menganggap anda tidak jujur.

KERAHASIAAN

Kerahasiaan terkait dengan hal-hal yang dibicarakan dalam konseling. Kerahasiaan klien perlu dilindungi, tidak perlu diketahui atau dikemukakan kepada pihak lain, tidak dapat disampaikan secara terbuka oleh konselor kepada siapapun termasuk kolega-koleganya.

Apabila dalam membantu klien, konselor perlu konsultasi dengan orang tua atau referal kepada pihak lain, maka hendaknya minta ijin kepada klien terlebih dahulu.

Jika kerahasiaan suatu keterangan tidak lagi dapat dijamin yang disebabkan karena adanya tuntutan hukum atau karena pertimbangan-pertimbangan lain yang mungkin dapat membahayakan diri klien, maka klien harus diberi tahu sesegera mungkin.

Catatan hasil wawancara hanya boleh diambil atau dilihat bila ada persetujuan klien. Hasil catatan hendaknya dimusnahkan bilamana konseling telah selesai dilakukan.

Dalam prakteknya, kadang-kadang ada batas-batas kerahasiaan yang layak diperhatikan. Jika konselor mengetahui secara etis tidak patut dirahasiakan, maka konselor perlu secara tepat menyampaikan kepada orang yang bersangkutan (misalnya klien mengancam orang lain). Konselor juga harus bertanggung jawab atas keselamatan orang lain dan diri sendiri.

Apabila klien terkena kasus yang terkait dengan masalah hukum dan harus berhadapan dengan penyidik, konselor juga harus memberikan informasi yang benar untuk kepentingan penyidikan. Meski demikian informasi tersebut juga harus disampaikan dengan cara-cara yang tepat.

MENGHARGAI PERBEDAAN

Dalam membantu dan melayani klien, konselor harus memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan ras, budaya, gender, seksualitas, spiritualitas, usia dan berbagai keterbatasan /kelemahan individu.

Konselor sebaiknya memikirkan bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi dirinya ketika ia berbicara dengan orang yang berbeda latar belakangnya. Pahami diri sendiri, apakah anda mempunyai prasangka, dan apa akibatnya jika anda berprasangka

Jangan melakukan konseling berdasarkan prasangka diri yang berlebihan. Memandang orang lain melalui prasangka sendiri atau bias ego semacam ini nyata-nyata merupakan kerikil yang menghambat kepribadian konselor. Bias ego memang tidak bisa dihapuskan sama sekali tetapi dapat dipahami dan diwaspadai. Diskusi tentang kepribadiannya sendiri dengan orang lain akan sangat membantu dalam melakukan konseling terhadap orang lain secara efektif. Ini akan membantu konselor dalam memahami dirinya sendiri.

Kesulitan yang dihadapi konselor

Keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan

Seringkali konselor merasa kurang percaya diri, lebih-lebih bagi konselor pemula. Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan tentang konseling menjadi penyebab utama ketidakpercayaan diri tersebut. Dalam banyak kasus, relawan sosial atau pekerja kemanusiaan yang lain tidak mempunyai latar belakang penidikan formal sebagai konselor, namun di tempat mereka memberi pelayanan dituntut untuk berperan dan menjalankan fungsi sebagai konselor.

Perasaan konselor terhadap klien

Karena konselor bukan malaikat, melainkan manusia biasa maka kadang-kadang ia dapat terpengaruh oleh klien. Konselor kadang-kadang tidak suka kepada klien, marah ketika menghadapi klien yang berperilaku kasar dan buruk !

Selain perasaan marah, bisa saja konselor mempunyai perasaan cinta kepada kliennya. Dalam intensitas relasi dan komunikasi yang berlangsung lama, konselor bisa terlibat secara emosional. Konselor yang bekerja sendirian atau yang mengunjungi sendiri klien di rumahnya adalah orang-orang yang lebih rentan.

Sebagai konselor anda perlu mengatasinya ! salah satu caranya adalah membicarakannya dengan teman sejawat atau supervisor anda. Jika anda tetap tidk mampu mengatasinya, maka rujuklah klien anda kpada konselor lain.

Lanjutan…

Di tantang oleh klien

Konselor pada suatu saat akan berhadapan dengan situasi dimana klien menantang kehandalan, pengalaman atau status konselor. Klien dalam hal ini ingin menunjukkan dan mendapat jaminan bahwa ia sedang diperlakukan dengan satu cara yang tepat oleh orang yang kompeten.

Dalam menghadapi sikap klien tersebut, konselor hendaknya :

  1. Tidak bersikap defensif
  2. Jangan menganggap rendah diri sendiri
  3. Bersiaplah menghadapi pertanyaan-pertanyaan
  4. Memahami konteksnya
  5. Bersikaplah tegas dan berwibawa

Meghindari kejenuhan

Kejenuhan seringkali muncul di kalangan para konselor. Karena ini merupakan masalah penting bagi para konselor, tanda-tanda atau gejalanya harus kita kenali, sehingga sebagai konselor kita bisa melakukan antisipasi dan menangani perasaan jenuh tersebut.

Gejala kejenuhan

Pengambilan keputusan, berkaitan masalah yang besar atau kecil menjadi sulit.

Khayalan atau fantasi yang berlebihan “meninggalkan pekerjaan tersebut segera”.

  1. Meningkatnya penggunaan obat-obatan untuk pusing atau sakit-sakit ringan lainnya.
  2. Pikiran meloncat-loncat ketika berbicara atau menulis.
  3. Kekuatiran yang berlebihan tentang segala hal.
  4. Ledakan kemarahan dan sikap bermusuhan yang tiba-tiba.
  5. Lupa akan janji-janji, batas akhir tugas dan jadwal-jadwal.
  6. Banyak mengungkapkan hal-hal sedih dan merasa tidak mampu.
  7. Memperlihatkan perilaku yang tidak biasa.

Tanda-tanda lain yang lebih mudah dikenali :

  1. Acuh tak acuh
  2. Merasa terbebani
  3. Tak sabar dan marah
  4. Terus memberi nasehat
  5. Terpengaruh secara emosional
  6. Tidak kreatif

Faktor-faktor yang menyebabkan kejenuhan :

  1. Beratnya beban kasus
  2. Pengetahuan dan ketrampilan yang tidak memadai
  3. Manajemen kasus yang tidak efektif
  4. Kurangnya dukungan dari pimpinan
  5. Pengembangan staf dan kebijaksanaan kesejahteraan staf yang tidak memadai

MENANGANI KEJENUHAN :

Jangan melanjutkan hal yang sama jika anda tidak mengalami kemajuan. Terbukalah untuk membuat percobaan dengan pendekatan yang berbeda. Kalau anda melakukan hal-hal yang sama, anda akan semakin frustasi. Cobalah kemungkinan-kemungkinan lain.

Lakukan konsultasi dengan konselor lain. Mungkin anda membutuhkan saran dan pendapat mereka.

Secara seksama, pantaulah perasaan-perasaan anda sendiri terhadap klien-klien anda. Jika anda merasa tidak sabar, marah, tertekan, lakukan sesuatu. Misalnya berbicara dengan rekan sejawat, melakukan sesuatu yang bermanfaat, jangan biarkan perasaan anda merajalela. Jika perlu berusahalah untuk konseling dengan profesional yang lain.

Akui kegagalan-kegagalan anda, jika perlu carilah rujukan untuk kasus tersebut. Anda tidak perlu memandang rendah terhadap diri sendiri, tetap belajar dari pengalaman untuk dapat bekerja lebih efektif.

Pertimbangkanlah untuk meninggalkan sejenak pekerjaan anda atau meninggalkannya sama sekali dan mencari pekerjaan lain yang tidak perlu menuntut kehidupan emosional anda. Ini bukan berarti anda kalah, tetapi justru merupakan keputusan bijaksana. Anda harus memikirkan baik kepentingan klien maupun kepentingan anda sendiri. Terus melanjutkan pekerjaan anda dalam perasaan jenuh akan memperburuk situasi anda sendiri maupun orang-orang yang anda layani.

LANGKAH PENCEGAHAN :

Memeriksa diri secara berkala perasaan-perasaan anda, baca buku tentang manajemen stress lakukan pengelolaan diri secara lebih tepat.

Perjelas harapan-harapan anda. Pahami dengan benar pekerjaan anda. Bersikap-lah realistis terhadap ketrampilan-ketrampilan anda. Anda tidak perlu mengharapkan diri anda sendiri untuk melakukan hal-hal yang melampaui ketrampilan dan bekal yang anda miliki. Jangan anggap diri sendiri sebagai sang penyelamat yang harus menolong setiap orang yang anda jumpai.

Aturlah kasus-kasus yang anda tangani. Jangan sebaliknya, anda didikte oleh kasus-kasus. Atur dan seleksi-lah jenis masalah apa yang tepat anda tangani sesuai dengan jangkauan ketrampilan anda.

Buatlah pendekatan Tim, bekerjalah bersama-sama dengan kolega, saling berkonsultasi.

Lakukan manajemen waktu secara lebih efektif, karena bekerja dengan klien mungkin akan membawa anda untuk terlibat dalam berbagai aktivitas klien. Sediakan waktu untuk diri anda sendiri dan keluarga. Buatlah rencana untuk istirahat, rekreasi, liburan atau kegiatan pribadi lainnya.

Pisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi. Tidak bijaksana jika anda bersedia menerima telepon atau kedatangan klien di rumah, kecuali dalam situasi krisis. Jangan terlalu membenamkan diri dalam pekerjaan, sementara anda mengabaikan urusan-urusan pribadi.

Perkuat relasi-relasi anda, dengan teman-teman, sesama profesional dan keluarga. Ada membutuhkan dukungan dari sejumlah teman, sahabat dan kolega anda. Bergabunglah dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh himpunan-himpunan profesi. Bentuklah kelompok pendukung untuk saling membagi pengalaman dan belajar bersama. Jangan lupa anda juga butuh ber-relasi dengan orang-orang yang tidak berkaitan dengan pekerjaan anda.

Mengembangkan diri anda sendiri. Buatlah suatu rencana pengembangan diri. Bacalah artikel dari berbagai sumber berita atau buku-buku yang dapat mendukung peningkatan ketrampilan anda. Lakukan konsultasi dan supervisi dengan ahli-ahli yang lebih berpengalaman secara teratur. Hadirlah dalam seminar atau lokakarya untuk memperluas pengetahuan anda. Ikuti pelatihan dari sejumlah lembaga secara berkelanjutan.

Bookmark and Share

Recent Entries

Leave a Reply